Catatan Seorang Jurnalis | Part 3

August 24, 2018




Video Editing

Beberapa saat setelah saya mendapatkan tugas untuk mengisi beberapa laman web milik SMK, saya diberi arahan lebih lanjut untuk juga mempelajari dan menggeluti bidang videografi dan fotografi. Untungnya pada saat itu salah satu mentor Jurnalistik yang memiliki kemampuan dan professional di dua bidang itu.

Saya masih ingat sekali di hari itu, dimana saya mulai mempelajari hal yang aneh bagi saya itu. Sepulang sekolah, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi kerja sang mentor ini. Awalnya saya hanya seseorang yang penasaran, tetapi seraya waktu berlalu, rasa penasaran itu berubah menjadi rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mulai detik itu, saya merasa bahwa ilmu saya tidak ada apa – apanya dibanding orang yang ada disebelah saya pada waktu itu. Akhirnya saya bertekad untuk meningkatkan pundi – pundi ilmu yang saya miliki.

Hampir 4 jam setiap hari saya habiskan untuk menonton tutorial di YouTube, baik itu tutorial videografi, sinematografi, fotografi, maupun editing. Tidak peduli bahasa yang digunakan di dalam video itu, tidak peduli durasi yang dimiliki video itu, semua video yang saya temukan saya babat habis. Akhirnya, kemampuan saya semakin meningkat dan semakin baik dari waktu ke waktu.

Tapi tantangan berikutnya adalah, alat yang saya miliki tidak cukup mumpuni untuk berlanjut di bidang editing video. Akhirnya selama hampir 2 bulan saya menabung uang jajan saya untuk meningkatkan kualitas yang saya miliki. Dan akhirnya, saya mendapatkan alat yang cukup (sebenarnya kurang dari cukup) untuk mempelajari hal ini.

Mulai dari video yang dibully oleh ratusan bahkan ribuan orang, sampai akhirnya kualitas video yang saya miliki mampu membuat orang nomor satu di Jawa Tengah pada waktu itu memercayakan saya untuk membuat video dokumenter pada waktu beliau berkunjung ke sekolah kami.

Video pertama yang saya hasilkan adalah video tentang kepramukaan di sekolah kami. Tentu, video itu sangat buruk sekali, dan tentunya juga banyak sekali sindiran bahkan hinaan yang datang secara silih berganti kepada saya. Awalnya saya merasa hina dan tidak ingin melanjutkan tugas saya sebagai seorang jurnalis. Tapi, setelah saya pikir beberapa kali, ternyata hinaan itu tidak berdampak apa – apa pada saya. Sayalah yang menyebabkan hinaan itu berdampak.

Maka saya putuskan untuk lebih giat lagi mempelajari hal itu dan meningkatkan kemampuan saya. Trik yang saya miliki ketika berada di titik ini adalah, saya harus mencari pesaing. Dengan adanya pesaing, saya merasa harus membuat perkembangan, dan karena terus membuat perkembangan, kemampuan saya akan terus meningkat.

Dari kurun waktu ini saya belajar bahwa, Tidak ada orang yang bisa mengubah kehidupanmu, kamulah sendiri yang mampu mengubah kehidupanmu.

                                                                                                                                                                   

Di cerita berikutnya, saya akan menceritakan detik – detik ketika saya harus memegang kendali penuh atas jurnalistik karena ditinggal oleh Ketua Organisasi

| Sebelumnya : Part 2

| Selanjutnya : Part 4

You Might Also Like

0 komentar

ADS

ADS

ADS