Video Editing
Beberapa
saat setelah saya mendapatkan tugas untuk mengisi beberapa laman web milik SMK,
saya diberi arahan lebih lanjut untuk juga mempelajari dan menggeluti bidang
videografi dan fotografi. Untungnya pada saat itu salah satu mentor Jurnalistik
yang memiliki kemampuan dan professional di dua bidang itu.
Saya
masih ingat sekali di hari itu, dimana saya mulai mempelajari hal yang aneh
bagi saya itu. Sepulang sekolah, saya menyempatkan diri untuk berkunjung ke lokasi
kerja sang mentor ini. Awalnya saya hanya seseorang yang penasaran, tetapi seraya
waktu berlalu, rasa penasaran itu berubah menjadi rasa ingin tahu yang sangat
tinggi. Mulai detik itu, saya merasa bahwa ilmu saya tidak ada apa – apanya dibanding
orang yang ada disebelah saya pada waktu itu. Akhirnya saya bertekad untuk meningkatkan
pundi – pundi ilmu yang saya miliki.
Hampir
4 jam setiap hari saya habiskan untuk menonton tutorial di YouTube, baik itu
tutorial videografi, sinematografi, fotografi, maupun editing. Tidak peduli bahasa
yang digunakan di dalam video itu, tidak peduli durasi yang dimiliki video itu,
semua video yang saya temukan saya babat habis. Akhirnya, kemampuan saya
semakin meningkat dan semakin baik dari waktu ke waktu.
Tapi
tantangan berikutnya adalah, alat yang saya miliki tidak cukup mumpuni untuk berlanjut
di bidang editing video. Akhirnya selama hampir 2 bulan saya menabung uang jajan
saya untuk meningkatkan kualitas yang saya miliki. Dan akhirnya, saya
mendapatkan alat yang cukup (sebenarnya kurang dari cukup) untuk mempelajari
hal ini.
Mulai
dari video yang dibully oleh ratusan bahkan ribuan orang, sampai akhirnya
kualitas video yang saya miliki mampu membuat orang nomor satu di Jawa Tengah
pada waktu itu memercayakan saya untuk membuat video dokumenter pada waktu
beliau berkunjung ke sekolah kami.
Video
pertama yang saya hasilkan adalah video tentang kepramukaan di sekolah kami.
Tentu, video itu sangat buruk sekali, dan tentunya juga banyak sekali sindiran
bahkan hinaan yang datang secara silih berganti kepada saya. Awalnya saya
merasa hina dan tidak ingin melanjutkan tugas saya sebagai seorang jurnalis.
Tapi, setelah saya pikir beberapa kali, ternyata hinaan itu tidak berdampak apa
– apa pada saya. Sayalah yang menyebabkan hinaan itu berdampak.
Maka
saya putuskan untuk lebih giat lagi mempelajari hal itu dan meningkatkan
kemampuan saya. Trik yang saya miliki ketika berada di titik ini adalah, saya
harus mencari pesaing. Dengan adanya pesaing, saya merasa harus membuat
perkembangan, dan karena terus membuat perkembangan, kemampuan saya akan terus
meningkat.
Dari
kurun waktu ini saya belajar bahwa, Tidak ada orang yang bisa mengubah kehidupanmu,
kamulah sendiri yang mampu mengubah kehidupanmu.
Di
cerita berikutnya, saya akan menceritakan detik – detik ketika saya harus
memegang kendali penuh atas jurnalistik karena ditinggal oleh Ketua Organisasi
| Sebelumnya : Part 2
| Selanjutnya : Part 4




































